Selasa, 24 November 2015

Dua Minggu Silam

Dua Minggu Silam

 Sudah dua minggu setelah acara pentas seni di sekolah usai, namun hati ini masih tertinggal.
Kenalin, aku Duta Prastika yang biasa di panggil Dee. Gadis hijabers yang lagi duduk di kelas X di salah satu SMA favorit yang ada di Bengkulu. Aku memulai perjalanan kisah cintaku yang amat pahit kurasa. Sejak kejadian dua minggu yang lalu, aku mulai mengerti apa itu sakit karena cinta.

“ doorrrr !!!!... bengong aja kayak sapi ompong ” kebiasaan usilku yang paling ngga disukai sama temen di kelas.
“ astaga Dee !! bisa ngga sih kalo ngga ngagetin orang yang lagi menghayal ketemu pangeran william” ucap fitri teman sebangku ku.
“ hahaha, jadilah kamu fit jangan menghayal tinggi-tinggi deh, nanti jatuh, sakit lo ”
“ duhh curhat nih ceritanya bahas masalah jatuh” celetuk fitri sambil senyum-senyum tipis.
“ apaan sih,..”

Jatuh, ya sakit memang rasanya terjatuh dari tangga impian yang kita bangun sendiri. Menagis, sudah tentu menjadi barang biasa bagi mata ini mengeluarkan buliran air mata. Sungguh teramat sangat aku merasa sakit akan hari itu. Malam acara pentas seni yang  mulanya aku bayangkan menjadi malam yang sangat luar biasa, malam dimana tawa ini mengungkap rasa bahagia yang teramat sangat, kini berubah menjadi malam yang sangat menyakitkan bagiku. Pada malam itu, semua siswa yang hadir di wajibkan untuk membawa sebuah surat untuk seseorang yang di idolakannya. Termasuk aku, aku pun menuliskan sepucuk surat untuk orang yang aku sukai sejak aku masuk di SMA ini.

Putra kakak kelas  yang sekarang duduk di kelas Xl IPA sekaligus menjabat sebagai sekretaris OSIS SMA, kini menjadi sosok yang menjadi topik utama dihatiku. Cowok yang aku sukai sejak Masa Orientasi Siswa tahun lalu dan hingga saat ini aku tak berani untuk berkata jujur. Malam itu, saat malam puncak pentas seni itu aku mencoba untuk memberanikan diri mengungkapkan perasaanku. Dengan sepucuk surat berbalut amplop pink, aku menuliskan segala perasaan ku yang sebenarnya kepada Putra.

Entah harus memulai dari mana, entah harus berkata apa ? aku hanyalah mawar yang sedang mencari tuannya. Sebab tangkai ini butuh sentuhan agar tak layu. Dengan segenap rasa keberanian ini, serta rasa cemas yang menghantui. Aku sengaja menulis kata demi kata untuk mu kak Putra. Mungkin aku terlalu lancang untuk menulis ini, dan aku tak sanggup untuk berkata langsung tentang perasaan ini.Aku menyukaimu sejak Masa Orientasi itu, saat aku nyaris beku menanah dinginnya malam, kau hadir memberikan aku sebuah kehangatan. Sejak jaket silver itu membalut tubuhku, tak kusadari jantung ku pun berdetak dengan amat sangat. Awalnya aku tak menyadari hal itu, namun hari-hari yang kulalui menyadarkan ku bahwa aku menyukaimu.Aku tak tahu, saat kamu baca tulisan ini apakah kamu tersenyum atau muak. Tetapi, aku mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan perasaan ini  sejak satu tahun yang lalu. Dimalam yang aku anggap spesial ini, mala tahunan SMA kita, malam puncak pentas seni, aku ingin kamu tahu bahwa aku sangat menyukaimu. Maaf, maaf atas lancangnya diri ini mengakui yang sejujurnya. Tetapi dengan inilah aku ingin kamu tau yang sebenarnya.
Akulah mawar yang menanti sentuhan sang tuan untuk menggapai....
Salam kasih
Dee
Untaian kata yang sengaja ku tuliskan, kulipat erat dengan balutan harapan yang amat sangat. Berharap saat malam pensi itu aku mampu memberikannya. Tapi, aku pun telah memikirkan apapun yang terjadi malam itu. Akankah aku tersenyum, atau pu menangis .

( malam puncak pensi)
“ cantik banget kamu malam ini Dee, udah kayak mau ketemu pangeran William aja ”
“ iya dong, malam ini itu lebih dari mau ketemu pangeran william fit”
“ ehh gimana udah bawa surat buat putranya ”
“udah dong, aku seneng deh fit ternyata OSIS kita kreatif ya, acara pensi mewajibkan seluruh siswa untuk menulis surat buat idolanya, kan ini jadi kesempatan buat aku”.

Semua siswa kumpul di panggung utama untuk mendengarkan arahan dari ketua OSIS yang kali ini di wakili oleh sekretaris OSIS, Putra. Acara pensi pun berlangsung, dan tiba saat yang di tunggu-tunggu. Surat, ya waktunya pemberian surat yang udah kita buat untuk orang yang kita idolakan. Tiba-tiba terdengar suara putra di atas panggung dengan mix di tangan kanan, dan sepucuk surat berwarna biru di tangan kirinya. Sontak saja, suara riuh teman-teman memadati ruang pensi ini. Begitupun hati ini, mendengar bahwa putra ingin membacakan langsung surat yang di tangannya di depan umum, seolah menciut rasanya nyali ini.

“ untukmu yang aku cinta... mungkin malam ini akan menjadi malam yang amat berkesan bagiku. sebab, aku berdiri dan membaca surat ini yang kutuju untuk orang yang aku sayangi. Malam ini, di depan seluruh tema-teman aku ingin mengungkapkan bahwa aku sangat mencintaimu, maukah kamu menjadi teman hatiku, diandra ... ” suara lantang putra membacakan isi surat ditangannya.

Seolah aku merasa ada petir menyambar hati ini, Tuhan, apa ini ? apakah aku tak salah mendengar ? jantung ini berdebar begitu dahsyatnya, tubuh ini gemetar, dan air mata ini pun tanpa sadar telah membasahi pipi ini. Mendengar pernyataan putra, membuatku merasakan jatuh yang teramat sangat. Dihadapanku, orang yang kusuka, orang yang ku cinta, mengungkapkan perasaanya untuk orang lain. Langkah kaki ini pun membawa ku untuk berlari, kertas pink yang awalnya terlipat rapi, kini tanpa sadar kuremas hingga tak berbentuk.

“ Dee.... mau kemana ”  suara fitri mengejar mengikutiku.

Aku berhenti di taman sekolah, memandang di langit luas cahaya bintang yang berkilauan. Aku masih belum bisa menerima kenyataan ini, kenyataan yang teramat pahit di dalam hidupku.

“ Dee kamu ngga apa-apa ?” suara lirih fitri menghampiriku.
“ fit.....” kupeluk erat tubuh fitri hingga aku tak mampu menjelaskan apapun padanya.
“ sudah Dee, kamu ngga perlu nangis gitu. Kamu ngga pantes nangisin orang yang buat kamu sakit, sekarang kamu kan udah tau yang sebenarnya. Percaya deh, Allah bakal ngasih orang yang lebih buat kamu” ucap fitri berusaha menenangkan ku.

Disini , dibawah kilauan bintang-bintang aku menyadari apa itu rasanya terjatuh dari harapan yang kita bangun sendiri. Menangis tak akan mengembalikan keadaan, meronta pun tak akan mengubah ucapan yang telah terucap. Kini, aku menerima kenyataan. Bahwa mencintai itu butuh pengorbanan, nyali, dan keberanian. Namun disini, aku mencintai orang yang salah. Bertepuk sebelah tangan, mungkin bisa dibilang seperti itu, atau dengan istilah kasih tak sampai. Seperti satu kalimat yang pernah ku baca,

Mencintaimu itu butuh pengorbanan, namun untuk memilikimu butuh keberuntungan.

-Pengagum senja-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bola Basket Pagi yang berselimut mendung kali ini menyambut hari gue yang nyaris tak bersemangat, ya karena apa? Karena hari ini adala...