Selasa, 22 Desember 2015

Ajarkan aku agar aku mampu setegar Binar.

 Binar Senja
-Pengagum Senja-

Aku masih bersama kepingan rindu yang hadir dalam tiap kedipan mata ini untukmu. Aku masih seorang pengagum yang menanti celah orang yang ku kagumi mengerti akan arti hadirku. Ketika aku merasa bahwa tak ada yang pantas untuk sang pengagum,kecuali melihat sosok yang dikagumi tersenyum. Senyuman yang memancarkan hasrat jiwa ,menghapus luka.

Panggil saja aku Binar, gadis lugu yang saat ini menjadi salah satu mahasiswi kampus hijau Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Ya, aku mahasiswi program studi bahasa Inggris semester 3. Kata teman-teman, aku itu tipe orang yang ceria, humoris, dan hyperactive banget. Tapi, kalo masalah hati......

(Tempat parkir kampus)

“Biinnnnnnnnn...” suara teriakan yang tak asing kudengar memecahkan pandanganku.
“ ehh kamu La, baru juga dateng udah ngagetin aja ”
Arla salah satu teman curhatku yang udah lebih dari seorang kakak bagi ku. Dia juga temen sekelas ku dari awal aku kuliah di kampus hijau ini.
“ Kamu kenapa Bin, pagi-pagi udah bengong aja, ntar kesambet lo. Liatin apa sih, Bayu ? ” tanya Arla.
“ ahh ngga kok, ya udah yuk kita ke kelas ” jawabku.

Bayu, ya namanya bayu. Gitaris band kampus yang udah ngambil hati ku sejak 3 bulan yang lalu. Sejak acara festival band 3 bulan silam aku jatuh hati padanya. Mendengar petikan gitar ditangannya membuat aku semakin jatuh hati dibuatnya. Kumulai dengan perkenalan awal dengannya, hingga kini menjadi teman yang amat dekat yang tak ku bayangkan sebelumnya. Namun ada yang berbeda dari sosok dirinya, aku jatuh cinta namun aku tak bisa jujur mengatakan yang sebenarnya. Kami teramat dekat, merasa nyaman namun hanya sebagai teman. Ku akui, bahwa aku benar-benar suka dan bahkan aku amat mengagumi dirinya.

“ Sampai kapan kamu mau kucing-kucingan gitu sama Bayu, emang kamu yakin kalo kamu diem aja kayak gini si Bayu tau tentang perasaanmu Bin. ”
“ Ngga tau deh La, aku ga berani mau jujur sama si Bayu. Aku takut La kalo aku jujur nanti, dia malah ngejauh dari aku kalo tau perasaan ku yang sebenarnya saat ini ” jawab ku sambil berjalan melewati lorong kampus.
“ Tapi Bin, mau sampai kapan kamu pendem terus kayak gitu. Asal kamu tau ya Bin, si Bayu mah ngga bakalan tau kalo kamu ngga jujur langsung. Kalo pun aku yang bilang ke bayu, dia pasti Cuma anggap becanda aja. Mending cepetan deh kamu jujur tentang perasaanmu sama si bayu, dari pada tiap hari kamu makan hati. ”
“ Kita itu udah terlalu dekat sebagai seorang sahabat La, aku ngga mau Cuma gara-gara perasaanku ini nanntinya Bayu malah menjauh dari aku. ”

Lagi, terasa hati ini teramat sesak. Tuhan , hanya Kau yang tahu tentang hati ini. Hanya kau yang mengerti tentang perasaan ini. Bagaimana aku bisa mendapatnkan senyuman itu? Senyuman yang seutuhnya untuk ku miliki. Apakah aku tak pantas memiliki senyuman itu? Apakah aku tak pantas mendapatkannya? Selintas pertanyaan-pertanyaan yang ada di benakku.

(di ruang kelas )

“ lo pada kemana anak-anak kelas kok sepi amat ” tanya Arla.
“ hari ini dosennya ngga masuk, katanya sih lagi ada urusan gitu ” jawab salah satu anak kelas.
“ Yaelah, udah cepet-cepet ngampus malah dosennya ga ada. Ke kantin aja yuk Bin ”
“ iya udah yuk, nanggung banget kita ke kampus nih.” Jawab ku.

(di kantin)

“ Bayuu... sini ” teriak Arla sambil melambaikan tangan.
“ Jam segini udah di kantin aja kalian, emang ngga masuk apa ?” Bayu memulai percakapan.
“ Dosennya ngga masuk, tuh si Arla ngajak kekantin, yaudah kami kesini. Ehh sendirian aja, mana rombonganmu ” jawab ku
“ Entah, tadi aku abis dari nemuin dosen. Nah berhubung perut lapar belum sarapan iya udah deh isi perut dulu.”
“ Kalian pada mau makan apa, biar aku pesenin ” si Arla nawarin sambil bawa daftar menu.
“ Aku nasi goreng sama jus naga aja deh ” jawab Bayu.
“ Aku jus alpukat aja, masih kenyang males makan” jawab ku
“ Ngga makan ntar Magh  lo ” ucap bayu
“ Ngga lah kan aku masih kenyang Bay, aman ”

Kami terlalu dekat sebagai seorang teman, tak bisa membedakan mana perhatian biasa dan perhatian lebih yang selalu ia berikan. Aku teringat akan sebuah kalimat yang menyatakan bahwa :

 Jarak terjauh sebuah cinta, ketika kita tepat berada di depan orang yang kita cintai, namun ia tak menyadari keberadaan kita.

Itu yang selalu aku rasakan saat aku berhadapan langsung dengan bayu. Hati seolah menjerit tuk mengatakan yang sebenarnya. Namun lisan ini kaku tuk berucap. Hati memberontak, namun aku terus melawan, menerima, sejatinya aku hanya sebatas teman baginya,tak lebih. Bukan sekedar keberanian untuk mengungkap, namun kenyataan yang harus di terima.
***
Sore ini aku berada di tepian senja yang teramat elok kilaunya. Ku dekatkan kaki ini pada hempasan ombak yang menyeru. Semilir angin membalut hangatnya hati ini. Ya, kebiasaan ku saat aku merasa sepi ialah pergi ke pantai. Entah mengapa aku selalu damai saat aku menatap kilauan cahaya senja yang membias manja. Bagiku senja itu amat berarti, begitupun kehadiran Bayu saat ini dihatiku. Aku selalu menceritakan sosoknya pada senja, menghayal bahwa iya ada di sisiku saat aku menatap biasan senja, menggenggam erat tangan ini, dan menjadi sandaran tubuh ini.

Senja,
Aku sebut kisah ini sebagai senja,peralihan antara hilangnya matahari dan hadirnya bintang. Senja itu ada untuk sekejap ,namun kisah dan kenangannya  selalu ada membekas .kilauan cahaya senja selalu menjadi cerita. Begitupun dengan mu Bayu,sosok mu selalu menjadi kisah yang membuat hati ini terpenjara.
Sungguh teramat sesak hati ini menahan, ingin mengungkap namun tak terucap. Bayu, tau kah kamu. Sejak 3 bulan silam sosok mu selalu menjadi perbincangan hati ini. Sunggu aku amat menyayangimu. Aku sangat mengagumi sosok dirimu. Menjadi tempat ternyaman saat kau disisi ku. Sungguh, dengan apa cara aku mengungkap rasa ini padamu. Kita terlihat teramat dekat, namun aku merasa kita jauh.
Akankah mustahil bila hati ini menyatu, atau hanya sebatas anganku untuk memilikimu. Sungguh aku amat mencintaimu, bayu....
20/09/2015
Binar

Rangkaian kata sengaja kutulis di halaman belakang buku harianku. Seolah tercurah semua isi hati ini. Namun, untuk mengungkap secara langsung, aku tetap tak sanggup. Tanpa sadar air mata ini menetes membasahi lembar penuh dengan kata-kata. Aku tak mengerti, mengapa begitu rumit kisah cintaku ini?
***
Hari selanjutnya, seperti biasa aku melakukan aktivitas yang ku jalani. Rabu cerah ini mengawali pagiku dengan semangat yang menggebu. Berangkat ke kampus, menjadi prioritasku sebagai mahasiswi yang sedang mencari ilmu. Demi masa depanku yang lama ku ukir di angan untuk segera ku wujudkan.

(di parkiran kampus)

“ Mana si Arla jam segini belum nongol ” gumam ku dalam hati.

Aku melihat sekeliling halman yang biasa untuk memarkirkan kendaran mahasiswa. Awalnya tak ada yang berbeda, masih sama seperti hari-hari biasanya. Namun,saat mata ku tertuju di gerbang, aku seolah bisu, seketika ada badai datang saat musim panas. Sakit hati ini teramat sakit, mata pun semakin memandang semakin berkaca-kaca . apa yang terjadi pada hari ini ? mengapa hari yang awalnya menjadi semangatku kini berubah menjadi hari yang teramat buruk untuk ku. Bayu, ya sosok bayu yang kulihat. Bersama dengan wanita berkulit putih berada di atas kuda hitamnya. Apa yang terjadi ? mengapa hatiku begitu sakit ?

Aku berlari menuju tempat yang mampu membuat tenang hati ini, tanpa tersadar bulir-bulir air mata terjatuh di pipi ini. Sungguh terasa sakit hati ini.

“ Binnn..Binn...” terdengar suara Arla dari kejauhan.
“ Bin , kamu kenapa nangis ? kamu udah tau ya kalo si bayuuuu...” arla memulai percakapan.
“ Arlaa... ngapa hatiku sakit banget laa” aku memulai ceritaku sambil memeluk arla.
“ Udah-udah bin, kamu yang sabar ya. Aku juga baru tau dari tadi, kalo si Bayu sama cewek. Nah aku tanya sama temennya si bayu katanya cewek itu pacarnya bin, udah sekitar 2 hari yang lalu dia jadian.”
“ Laa, apa harus sesakit ini sih mencintai seseorang. Kenapa saat aku benar-benar sayang, benar-benar dibuat nyaman, tapi aku harus merasa sakit yang teramat sangat” ucapku pada arla.
“ Sudah bin, kita juga ngga bisa sepenuhnya menyalahkan bayu. Sebab kamu juga nnga pernah jujur sama bayu tentang perasaanmu, jadi bayu juga ngga tau kan Bin ”
“ Laa, aku bener-bener ngga sanggup kalo harus jujur tentang perasaanku”
“ Udah Bin, kamu ngga pantes nangis kayak gini demi orang yang jelas-jelas ngga tau kita kalo dia sayang apa ngganya sama kamu. Sekarang kamu tenangin diri ya ” ucap arla sambil memeluk ku.

Hati ini sungguh teramat rapuh,seolah hancur berkeping-keping. Mengapa aku merasakan hal yang amat menyakitkan saat aku benar-benar menyayangi seseorang. Mengapa aku harus menerima kenyataan pahit ini ? mengapa seolah rasa bahagia kian menjauh dari hidupku ? Sungguh aku amat rapuh.
***
Kembali aku menjumpai senja, tempat dimana aku mencari kedamaian untuk mengungkap segala rasaku. Aku mengadu tentang yang kurasa saat ini. Tanpa kusadari entah berapa banyak bulir air mata yang mengalir.

Senja,
Kamu tahu rasa sakit itu, rasa yang teramat sangat hingga tak mampu ku jelaskan. Hati siapa yang tak hancur, melihat orang yang berharap kita miliki, namun kini berada di pelukan orang lain. Tak mampu ku perjelas betapa sakitnya aku.
Bayu, aku tahu ini tak sepenuhnya kesalahanmu. Tetapi aku, aku yang terlalu berharap padamu dan aku tak berterus terang padamu. Aku tak mengatakan yang sejujurnya dari awal tentang rasa ini. Karena aku takut jika kau tahu yang sebenarnya, kau akan menjauh dariku. Sebab itulah aku tak ingin kehilanganmu.
Jika aku beranikan untuk mengungkap, mungkin aku tak tahu juga apa yang terjadi padaku. Akankah kau menerimaku, atau bahkan sebaliknya. Sungguh yang harus kau tau Bayu, tak mudah aku memendam rasa ini. Tak sedikit waktu ku habiskan untuk melawan hati ini.
Kini terlambat sudah untuk ku, rasaku, kasih sayangku, seolah terbuang sia-sia untukmu. Satuhal yang harus kau tau, aku amat mencintaimu. Bayuuuu.....
21/09/2015
Binar
Seperti kapas yang terbawa angin, jiwa ini seolah tak tau arah kemana lagi harus melangkah. Hati ini seolah tetap teguh pada pendirian bahwa aku amat menyayangimu. Kembali kelimat demi kalimat aku ukir di halaman buku harianku. Meskipun aku tau ia takkan merespon, namun hadirnya menjadi tempat labuhnya kata-kata hati ini.

Tanpa sadar langit pun semakin gelap, dan bias senja pun semakin memudar. Aku segera bergegas untuk kembali ke rumah yang menjamu jutaan kenyamanan.

“kkrriinggggggggggg” dering ponselku berbunyi.
“ halo, La... ada apa ?”
“ kamu dimana bin, aku kerumah kok kamu ngga ada. Jangan nekat bin, mentang-mentang sakit hati pergi seenaknya ngga bilang” suara arla marah-marah di ponsel.
“ iya ini mau pulang, aku Cuma di pantai kok La. Tunggu aku bentar lagi pulang”
“ cepetan ya, aku tunggu di rumah nih”
“ iyaaa “.

(di rumah 19:00)

“ assalamualaikum, ma mana si arla ”
“ di kamar tuh, dia nungguin kamu dari tadi” jawab mama.
“ ngapa bu...” sambil merebahkan tubuh lelahku di kasur.
“ pergi ga bilang-bilang, kalo kamu nekat siapa yang repot coba ” celoteh arla.
“ ngga lah, kan aku strong. Aku tadi Cuma lagi nenagin diri aja. Iya udah aku mandi dulu ya”

***
Pagi ini aku udah ada di kampus tercinta lagi, dengan hari baru ku tunjukkan semangat baru. Terima kenyataan akan hari kemarin dengan senyuman. Di lorong kelas ini kaki ku terus melangkah, tanpa sadar ada sesuatu yang membuat langkahku berhenti.

“ Binar... heii..” suara lelaki memanggil dari belakang.
“ Iyaa... ada apa ?” aku berbalik badan dan menjawab sapaan itu, dan ternyata orang itu adalah Bayu.
“ Ada waktu ngga, aku mau ngomong sebentar. Sekarang...” tanya bayu padaku.
“ Yaelah Bay, ngomong aja langsung, kayak serius aja” jawabku seolah tak terjadi apa-apa.
“ Aku kembaliin buku harian mu nih, maaf sebelumnya bin kalo aku lancang. Semalam aku ketemu sama arla terus dia ngasih buku ini sama aku. Aku udah baca semua isi buku ini,aku udah tau juga soal perasaanmu sama aku. Aku minta maaf bin sebelumnya kalo udah buat kamu sakit hati. Tapi jujur bin aku juga sayang sama kamu, tapi hanya sebatas sahabat. Kamu itu teman terbaik aku bin, maaf kalo aku udah buat kamu suka sama aku. Jika kamu minta lebih, aku ngga bisa bin, tapi sayang aku tetep ke kamu sebagai sahabat”
“ ohh iya Bay... kamu ngga salah kok bay, aku yang sepantasnya ngga meminta lebih dari seorang sahabat. Aku seneng kok punya temen kayak kamu, kalo masalah hati ini, aku minta maaf Bay, aku ngga bisa kontrol perasaanku sama kamu, aku malah berharap sama kamu. Maaf ya Bay, semoga kamu tetep mau jadi teman ku”
“ Binnn.... aku minta maaf ya udah ambil buku harianmu tanpa izin dari kamu. Soalnya aku ga tega liat kamu Cuma pendem perasaanmu, ngga mau jujur sama bayu. Semalam aku liat buku harian ini di tasmu, nah aku ambil. Waktu pulang aku ketemu sama Bayu, terus aku suruh dia baca isinya. Aku minta maaf ya Bin ” ucap Arla sambil meminta maaf.
“ iyaa La, iya udah kan hari ini kita udah tau satu sama lain. Jadi yang kemarin biarlah berlalu, yang jelas hari ini dah esok udah nunggu kita. Buat apa kita terus-terusan terlarut dalam kesedihan. Sekarang aku lega dengan semua ini, dan aku punya kalian”.

Senja,
Begitu rumit jika kita mempersoalkan cinta. Tak akan ada titik terang jika kita terus menerus memikirkan yang lalu. Dengan kisahku ini, aku jadi semakin mengerti apa itu cinta, sakit, juga sahabat.
Pengalaman yang mengajariku akan hal yang teramat berharga bagiku. Kalian tentu pernah merasakan istilah FRIENDZONE, ya dimana saat kita mencintai seseorang namun orang tersebut hanya menganggap kita sebagai teman.
Aku sebut kisah ini sebagai senja,peralihan antara hilangnya matahari dan hadirnya bintang. Senja itu ada untuk sekejap ,namun kisah dan kenangannya  selalu ada membekas .kilauan cahaya senja selalu menjadi cerita.
22/09/2015
Binar



Bola Basket Pagi yang berselimut mendung kali ini menyambut hari gue yang nyaris tak bersemangat, ya karena apa? Karena hari ini adala...